SELAMAT DATANG DI DUNIA INFORMASI - ANDRIAN SAPUTRA * PUSAT INFORMASI TERLENGKAP DAN TERMODERN MASA KINI *
Script Kiddies
[X]

Jumat, 22 April 2011

Lirik Lagu - Disaat Aku Mencintaimu

Mengapa kau pergi, Mengapa kau pergi
Di saat aku mulai mencintaimu,
berharap engkau jadi kekasih hatiku,
Malah kau pergi jauh dari hidupku,

Menyendiri lagi, Menyendiri lagi,
Di saat kau tinggalkan diriku pergi,
Tak pernah ada yang menhiasi hariku,
Di saat aku terbangun dari tidurku,

Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencintai dirimu,
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta…….

Menyendiri lagi, Menyendiri lagi,
Di saat kau tinggalkan diriku pergi,
Tak pernah ada yang menhiasi hariku,
Di saat aku terbangun dari tidurku,

Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencintai dirimu,
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta…….

Semoga engkau kan mengerti,, tentang perasaan ini
Maaf ku telah terbuai, akan indahnya cinta
Maaf sungguhku tak bisa, untuk kembali padamu
Maaf ku telah terbuai, akan indahnya cinta

Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta,

Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta,

Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta…
read more “Lirik Lagu - Disaat Aku Mencintaimu”

Jumat, 15 April 2011

Kisah Sha

Banyak yang dapat di pelajari dalam kehidupan yang begitu naif, terkadang kita merasakan indahnya kehidupan, kadang juga kita merasakan senang yang hanya sesaat. Itulah yang aku dapatkan saat ini, kadang membuatku binggung dengan masalah hidup aku sendiri. Tak semua orang dapat memahami arti kehidupan yang sesungguhnya, manusia sering lupa dengan apa yang di perbuat,dan hanya mementingkan kesenangan sesaat.
Aku merasa tak sanggup untuk menghadapi hidup yang seakan membuat diri tak mampu bertahan, hanya keteguhan hati yang membuat hati percaya untuk bertahan. Apa segampang itu aku melalui cobaan yang tiada henti datang. Tak ada yang mengetahui isi hati aku yang sebenarnya, begitu hancur, remuk. Kadang hanya mampu menahan sakit ini sendiri. Bibir aku selalu tersenyum, tapi tak ada yang tau betapa gundah hati yang penuh dusta ini.

Kisah ku berawal dari hari itu. Setelah aku lulus SMA aku melanjutkan sekolah ku ke perguruan tinggi swasta di batam, dan itu pun dari beasiswa yang ku peroleh sendiri. Tadinya ku berharap dapat masuk ke perguruan yang ku dambakan untuk menjadi seorang dokter. Tapi itu tak dapat ku wujudkan. Hatiku memang sedih,akan tetapi aku harus melanjutkan hidup ku.

Hari pertama masuk kuliah pun di mulai, OPSPEK pun telah dilalui selama dua hari kemarin.
Senin kuliah pun berjalan, dan hari pertama menyandang nama Mahasiswa. memang keren sih, tapi tak gampang jika membuat nama itu bernilai. 

Terlihat ramai di kantor Dekan pada ngantri untuk mengambil jadwal kuliah, dan aku pun ikut mengantri disitu. Setelah berdesakkan mengambil jadwal kuliah aku pun pergi mencari kelas ku. Telah ku cari kelas ku akhirnya dapat juga, begitu ramai di dalam kelas tersebut, macam-macam orang yang terlihat. Waktu terus saja berjalan tanpa aku sadari betapa cepatnya hari berlalu.   

Aku tinggal di kos-kosan yang begitu sederhana,dengan teman-teman yang menyenangkan. Pagi itu tiba-tiba handphone ku berbunyi, terlihat ibu ku menelepon, dan seperti biasa selalu menanyakan kabar. Hmm....aku selalu menyayangi ibu ku. Pagi itu hanya aku yang baru bangun, sedangkan yang lainya masih tidur, dan aku pun beranjak bangun buat nyuci pakaian ku yang menumpuk karena belum aku cuci. Setelah selesai menyuci, semua teman-teman satu kos ku telah bangun dan menyiapkan sarapan.

Tak terasa hari telah sore, saatnya siap-siap untuk berangkat kuliah. Setelah selesai mempercantik diri, aku dan teman-teman pun berangkat sama-sama, kampus kami pun tak jauh dari kos kami. Jam 5 sore kelas pun dimulai,dosen masuk dan mulai mengajar. Aku belum ada teman waktu itu, belum kenal siapa-siapa di dalam kelas itu. Berjalan seminggu kuliah aku mendapatkan teman yang bernama Yeni, awalnya aku menanyakan tugas kuliah waktu itu,ntah bagaimana kami menjadi begitu akrab semenjak itu. Setelah berkenalan waktu itu kami kemana-mana selalu berdua. Hingga kami di kenal dengan sebutan si kembar tapi beda. Begitulah setiap hari kami jalani.

Jam menunjukkan pukul 10 kurang 20 menit, kami pun keluar kelas kare na telah selesai mata kuliah, sesampainya aku di kos-kosan terlihat teman-teman ku sudah lebih dulu pulang, kami ngobrol sampai larut malam. Lagi asik ngobrol ada sms masuk di handphone ku, terlihat nomor yang tak di kenal. Di sms itu tertulis “ Ni siapa “, padahal aku tak pernah sms ke nomer ini, aku pun menanyakan balik “ siapa ni? Saya tidak kenal” . Dengan sekejap ia membalas sms ku, dan dia bilang kalo dia bernama Ihsan. “Hmmmm....siapa ni......saya tidak kenal, begitu lah aku membalas sms tersebut. Smsan kamu pun terus berlanjut hingga kami tau satu sama lain. Keesokkan harinya sewaktu pulang kuliah ikhsan menelepon ku dan kami pun ngbrol panjang, hingga ia mau ketemuan dengan ku malam itu.Aku memberikan alamat kos ku dengannya. Setengah jam kemudian Ikhsan menelepon dan dia mengatakan telah berada di depan kos, aku sontak keget dengar tiu, anak ini sepertinya nekat sekali ingin bertemu dengan ku.Dengan cepat aku keluar, dan terlihat sosok cowok menggunakan motor mio merah, semakin ku dekatin dan terlihat jelas sorang cowok yang manis wajahnya. Kami pun berkenalan dan ngobrol hingga larut malam di depan kos-kosan ku. Hari telah larut malam, dia pamit pulang.
Setengah jam pun berlalu,aku belum tidur, terdengar handphone ku berbunyi, ternyata Ikhsan yang sms ku,” ga nyeselkan bertemu dengan aku” , begitulah dia sms dengan aku, “ ga ko, malah ku seneng,makasih y...” begitulah aku membalas sms darinya.

Tak terasa sudah lama aku kenal dengan dirinya, hingga suatu hari dia menembakku, menyatakan cintanya dengan tulusnya. Dengan tangan terbuka aku menerimanya, betapa senang hati kami berdua pada saat itu. Kami melewati hari-hari kami bersama, dari senang maupun susah.
Siang itu telpon ku berdering, dengan cepat aku mengangkatnya. Terdengar suara serak yang sendu memanggilku dengan sebutan cinta. “ Lagi ngapain” dia bertanya kepadaku, “ lagi nyantai ja sambil dengar lagu” bagitu aku menjawabnya. “ Mau ikut ga?” dia bertanya kepada ku, “kemana?” jawabku. “Nemenin aku tampil siang ini !” serunya., hampir saja aku lupa bahwa dia tampil, untung saja dia tidak marah dengan diriku. “iya, kamu jemput aku y!!!” tegasku. “Ok, sebentar lagi aku jemput!” jawabnya.
Setelah menutup telpon darinnya, akupun menyiapkan diri secantik mungkin. Sudah satu jam aku menunggu tetapi tidak ada telpon ataupun suara motor terdengar di telingaku. “Kemana anak ini pergi?!!” gerutuku. Aku menunggu sekitar dua jam lewat 15 menit, aku sungguh gelisa, aku coba menelepon temannya dan tak ada satu pun yang mengangkat telpon ku waktu itu. Aku mencoba beberapa kali hingga akhirnya ada juga yang mengangkat. “ Halo...!Andre...!” tanyaku, “ iya....cha....!” balasnya, “ kamu ada melihat Ikhsan ga?” tanya ku, Sontak Andre terdiam dan tak mengeluarkan kata sedikit pun, aku mencoba mendengarkan secara saksama terdengar ada yang menangis di dalam HP.
“Cha..!Ikhsan udah ga da”kata Andre dengan gugup, mendengar kata-kata itu seakan jantungku berhenti berdetak, tangan ku gemeteran, kepala ku seakan mau pitam. “Apa......??!!! kamu jangan main-main Andre...!!! tanyaku dengan tertawa kecil yang tak sedap itu, “Ikhsan tabrakan...dan nyawanya tidak bisa diselamatkan...” kata Andre di seberang sana. Mendengar itu semua aku tak dapat berfikir apa-apa, HP ku terlepas dan terhempas ke lantai. Aku buru-buru ke rumah sakit, dan dari jauh terlihat ramai sudah diruang itu, sepertinya aku saja yang terakhir datang, tiba-tiba ibu Ikhsan menyapa dan memeluk diriku, aku sedikit pun tidak mengeluarkan air mata karena dadaku terasa sesak. Aku mencoba untuk sabar dan tegar, aku terus saja berjalan mendekati jasat yang telah dimandikan itu. Terlihat wajah Ikhsan yang polos dan lugu, aku mencoba memandang wajahnya sekejap itu aku teringat kebersamaan kami yang sekarang hanya menjadi kenangan indah. Air mata ku mulai tertetes, aku membelai wajahnya dan air mataku terus mengalir taktertahankan. Padahal kami barjanji akan selalu bersama dan menyatukan perasaan kami sampai akhir nanti. Tetapi itu semua tidak dapat terwujud. Aku terus saja menangis, dan menangis. Ibunya menyapa dan mengajakku untuk keluar karena mayatnya akan di sholatkan.”Ikhsan ada menitip pesan untuk mu cha..”kata ibunya dengan suara yang masih serak itu.” Pesan apa bu.....?” kata ku,”Ikhsan nitip kalung ini..” kata ibu Andre sambil menyerahkan kalung tersebut, terlihat kalung yang pernah aku idamkan selama ini. Ternyata Ikhsan membelikannya untukku dan akan memberikanya sewaktu ia habis manggung, akan tetapi dia telah di panggil oleh Maha Kuasa. Aku semakin menangis dan sedih, karena tak tergundahkan hati ku saat itu.

Pengkebumian pun telah selesai dilaksanakan, mataku masih sembab karena terus saja menangis, aku benar-benar tidak rela kehilangan orang yang ku sayang untuk pertama kalianya. Hari terus saja berlalu, tanpa terasa telah tiga bulan berlalu, tapi pikiranku selalu memikirkan Ikhsan yang kini telah tiada. Kasih sayang yang kami bangun kini hanya kenangan yang tak terlupakan oleh ku, aku selalu berdo’a untuknya agar Tuhan menjaga Ikhsan disisi-Nya. Amin.Terkadang aku sempat lupa akan kenangan bersama Ikhsan. Mungkin dia telah tenang di alamnya. Kalung yang diberikan olehnya selalu aku pakai dan tak pernah aku lupakan.
Bangun tidur aku merasakan kos-kosan kami agak sepi, tak satu pun teman-teman ku terlihat. Aku mencoba mencari tapi tetap saja tidak ada. Aku mencoba menelepon salah satu teman ku, “Halo...!”kata siska, “halo,kamu lagi dimana siska, kok ga da orang..?” tanyaku. “ Kami lagi belanja ke pasar “ kata siska yang agak sedikit teriak karena terdengar memang lagi di pasar.

Setengah  jam kemudian temen-temen ku pada pulang, mereka banyak beli belanjaan. “Tumben pada belanja kepasar” seruku, mereka hanya tersenyum dan tak mengeluarkan kata-kata apapun. Aku sedikit binggung. Mereka memulai masak dan aku ikiut bantu, akan tetapi mereka tidak mengizinkan aku untuk membantu mereka, kelakuan mereka agak sedikit aneh hari ini. Setelah mereka selesai memasak, mereka mempersiapkan untuk makan siang, aku tetap di kamar dan tak mau keluar karena tak enak dengan teman-teman yang sudah mengumpulkan uang untuk belanja dan memasak. Tiba-tiba teman ku panggil keluar dan menyuruh ikut gabung bersama mereka, akan tetapi aku menolak. Temanku terus memaksa dan menarikku keluar, alangkah terkejutnya aku ketika keluar dan meliahat temen-temenku, orang tua ku, kakak, adik,dan tak lupa orang tua Ikhsan yang sekarang telah menganggap aku sebagai anaknya sendiri. “Happy Birthday...” begitulah ucapan yang keluar dari semua orang ayang hadir saat itu, aku terharu bahagia akan tetapi sejenak aku teringat akan Ikhsan yang dulu juga pernah merayakan ulang tahunku. Akan tetapi mulai tahu ini kami tak dapat merayakannya bersama lagi.

Huh....saat ini umurku sudah 21 tahun, belajar untuk dewasa menerima semua masalah yang akan datang. Sore pun tiba, setelah membereskan rumah yang berantakan karena acara makan-makan tadi. Orang tua ku dan orang tua Ikhsan pamit pulang,dan sekarang hanya aku dan teman-teman ku yang berada di kos-kosan.
 Sore menjelang dan saatnya buat kuliah, sesampainya di lokal ku temen-temen ku mengucapkan selamat buat ku, aku sangat berterima kasih kepada semuanya tetapi mereka semua minta aku teraktirin mereka. Huh....terpaksa deh....

Selesai makan kami belajar kembali,setelah kelar semua mata kuliah malam itu kami pun bubar untuk pulang. Setelah aku keluar dan segera pergi ke parkiran motor. Seperti biasa aku selalu pergi kuliah menggunakan motor. Lagi asik berjalan sambil memandangi handphone, tanpa sengaja aku menabrak seorang  laki-laki dan handphone ku jatuh dan tak terbentuk lagi. Aku Sontak marah, ketika aku mau memaki terlihat sosok orang seperti aku kenal. Yah...wajahnya mirip dengan Ikhsan, walau tak sepenuhnya mirip. “ Maaf, aku tak sengaja...” kata laki-laki yang tepat berada di depanku. “Iya...tidak apa-apa” balas ku. Padahal setau ku, akulah yang salah tapi kenapa dia yang minta maaf. Dia senyum dan terus pergi. Handphone yang tadi jatuh telah di susunya dengan rapi kembali. Terlihat laki-laki itu buru-buru, mungkin dia telat masuk kelas. Tanpa berfikir panjang aku pun langsung mengambil motorku dan pulang.

Terdengar lagu Camelia yang di nyanyikan Erwansyah mendayu-dayu di telinga ku dan ketika membuka mata ternyata handphone ku yang bunyi. Terlihat ibu ku menelepon, seperti biasa setiap pagi dia bakal menelepon ku untuk membangunkan ku. “udah bangun cha” kata ibuku. “ iya...ni cha bangun...”balas ku dengan mata yang masih terpejam. “ ya....udah bangun jangan lupa sarapan..” kata ibuku dengan lembut. “ iya..bu...” balas ku lagi.
Aku segera bangun setelah di bangunkan oleh ibuku, terlihat teman-teman ku belum pada bangun. Tak terasa hari semakin senja, aku selalu di kos dan jarang sekali untuk keluar barmain main seperti teman-temanku. Jam menunjukkan jam 5, aku pun telah siap untuk pergi kuliah seperti biasa. Hari ini adalah hari kami, dengan mata kuliah Speaking Listening Comperhensive. Yah...maklumlah aku mengambil sastra inggris jadi semua mata kuliah ku berkaitan dengan bahasa asing itu yang terkadang buat kepala ku mumet. Mata kuliah pertama pun selesai, kami punya waktu sekitar 1 jam untuk melanjutkan mata kuliah kami yang kedua. Aku pergi ke kantin sendiri, ketika berjalan tak sengaja aku tertendang sesuatu barang dan aku mengambilnya. Setelah aku memegang barang itu ada seorang laki-laki datang dan “ Terima kasih yah...udah menemukan barang ku” kata laki-laki itu yang belum sempat ku lihat sepenuhnya. Aku menegakkan kepalaku dan terlihat laki-laki yang tak sengaja aku tabrak semalam. “Eh...aku tadi tak sengaja menendang barang ini” kata ku sambil memberikan barang tersebut kepadanya. “ Oh...bagitu y....? tapi terima kasih y...!” katanya sambil tersenyum. “ iya ...sama-sama” jawabku. “oh..ya...kamu yang kemaren tertabrak dengan aku kan?”tanyanya agak memastikan. “iya...”jawabku. “ Wah....kebetulan sekali ya...?!” serunya. Aku hanya tersenyum. “kamu mau kemana?” tanyanya. “Aku mau kekantin” jawabku singkat. “Oh...kalau gitu barengan aja denganku..aku juga mau kekantin” rayunya. “Boleh juga” jawabku. Tanpa basa-basi lagi kami pun pergi kekantin. Sesampainya dikantin kami memesan makanan dan minuman sambil mengobrol banyak waktu itu. “Kamu ambil jurusan apa?” tanya ku. “Aku ambil Teknik...kalo kamu?” tanyanya. “aku FKIP” balas ku. Tanpa sadar pesanan kami pun datang. Kami menyantap pesanan kami sambil mengobrol bayak, setelah kami selesai makan kami pun beranjak dari kantin. “Kamu mau kemana?” tanya lelaki badan tegap itu, “ aku mau pulang” jawab ku, “ kalau gitu barengan ja ma aku” tawanya tanpa banyak basa-basi. Aku mengiyakan ajaknanya.” Kamu ntar kejauhan ga?”tanyaku agak ragu. “kamu tinggal diamana?”tanyanya, “aku tinggal dekat sini”jawabku singkat sambil menunjukan arah, “ kalau gitu sama, kita satu jalann donk”. Tanpa banyak pertanyaan lagi dia mengantar ku sampai ke depan rumah. “Terima kasih y...udah mau nganterin”kataku. “iya...sama-sama, kapan-kapan aku boleh kan maen kesini” tanyanya, “boleh kok..” jawabku girang. Dia pun pulang.
Sebelum aku masuk aku terlupa akan sesuatu, namanya belum sempat aku tanyakan. Iya...namanya belum sempat kau tanyakan.Bodohnya aku karena lupa mau nanya namanya, belum tentu aku bisa ketemu dengan dia lagi. Upssstt...aku terlalu lelet akan hal itu. Mudah-mudahan aku dapat ketemu lagi dengan lelaki yang tubuhnya kekar itu.

Keesokan harinya, kuliah berjalan sepeti biasanya, sesampainya aku kekampus, terlihat diseberang jalan lelaki yang belum sempat aku tahu namanya itu sedang mengobrol dengan temanya. Terlihat sosok Ikhsan yang ku kenal dulu. Sosok kekasih yang aku cintai dulu, yang sekarang telah berada dilingdunga-Nya. Belum sempat ku ingin menemuinya, dosen pun telah datang, kesempatan itu terbuang sudah.
Setelah jam kuliah habis, aku pun bergegas meninggalkan kelas, karena aku telah lelah sekali. Hari itu aku tidak membawa motor, jadi aku hanya jalan kaki ke kos ku. Setelah keluar kampus aku berjalan di tepi jalan raya, akan tetapi ada seseorang mengikutiku, aku tidak tau itu siapa, dia menggunakan helm yang tertutup, sehingga aku tidak bisa meliharnya dengan jelas. Aku mempercepat jalan ku, semakin cepat aku melangkah semakin cepat juga ia mngikutiku. Aku berusaha untuk lari, akan tetapi ia tiba-tiba langsung mencegatku dijalan. “Siapa kamu........!!!!!!!!!!” tanya ku agak sedikit gugup. Lama dia memandangku di sebalik kaca helmnya itu. Tiba-tiba ia buka helm itu dan ternyata adalah laki-laki yang belum sempat aku tanyakan namanya itu. “ Hai.....kamu mau kemana, maaf sudah menakut-nakuti..”katanya dengan sedikit senyum. “ Ohh....ternyata kamu, kamu buat aku takut, aku mau pulang.” Jawabku agak sedikit gugup. “ Ohh y....aku belum tau nama kamu ? nama kamu siapa?.” Tanyanya agak penasaran. “Oh...aku cha, kamu?”jawabku manis,”aku Indra...,o yah..kamu biasanya pake motor, kemana motor kamu?” tanya nya,”motorku di rumah, aku lagi ga ingin bawa motor” jawabku,” jadi kamu mau kemana?”tanyanya penasaran, “aku mau pulang..”jawabu, “aku ajak makan mau ga?”tanya nya. Aku agak kaget mendengarnya, orang seperti dia mau ajak aku makan. Aku melamun sejenak, akan tetapi tersadar kembali, dengan tidak rasa segan aku menganggukkan kepala ku. “ Ayo kita pergi sekarang..”ajaknya tanda pikir panjang. Aku pun langsung naik k motornya, rasanya seakan mimpi di ajak laki-laki seperti dia. Di atas motor kami mengobrol banyak, hingga kami sampai ke suatu tempat makan yang sederhana. Kami pun langsung duduk dan memesan makanan. “aku sering liat kamu sering pulang sendiri...” tanya dia, “iya..aku emang pulang sendiri..” jawabku agak sedikit binggung, dari mana dia tau kalau aku sering pulang sendiri. “Aku sering liat kamu pulang selalu sendiri..”katanya. Aku merasa agak kaget mendengar itu, ternyata dia memperhatikanku. “ kenapa kamu tidak bersama teman atau pacar gitu...?”tanya Indra, “kalo temen-temenku selalu pulangnya beda jam “ jawabku. “terus pacar kamu mana..? kok ga jemput kamu..?”tanya Indra lagi. “Pacarku sudah meninggal..” jawabku agak sedikit sedih. “oh..maaf, aku tidak ada maksud untuk....”,”tidak apa-apa”aku langsung memotongnya. Kami pun melanjutkan makan kami dengan lahap. Banyak yang kami obrorkan saat itu, tentang kehidupan kami masing-masing. Dia menceritakan tentang keluarganya, aktifitasnya sebagai salah satu karyawan disebuah perusahaan. Akan tetapi dia tidak ada menceritakantentang hal pribadinya yaitu pacarnya. Aku pun tidak mau menanyakan hal itu, karena aku takut menanyakan yang bukan urusanku. “ Sampai sekarang aku takut punya pacar..” sontak indra berkata seperti itu. Aku sedikit kaget mendengar hal itu, tiba-tiba saja dia mengatakan hal itu. “ Kenapa...??” Tanya ku. “Aku takut untuk jatuh cinta lagi...” jawabnya sambil menundukkan kepala. Aku hanya bisa diam mendengarkan hal itu dan tak berani mengatkan apa-apa. “ Aku di dua’in ma pacarku dulu...”katanya. Aku hanya menganggut dan tak mau mengeluarkan kata-kata. “ tapi udah lah...aku tidak mau mengingatnya kembali....” kata indra tegas. Aku hanya tersenyum memandangi wajahnya yang menunjukkan kesedihan.

Setelah selesai makan dan ngobrol, kami pun beranjak dari tempat makan itu. Waktu itu jam menunjukkan pukul 20.10 malam, “ masih jam segini, kita jalan yuk...” katanya sontak. “ Boleh..” jawab ku cepat, walau sebenarnya aku kaget dan merasa aneh. “ Kita duduk di Barelang yuk...” katanya. “ Boleh juga” jawabku. Kami pun langsung kesana. Setibanya disana kami duduk di jembatan Barelang yang terkenal di batam saat itu. Kami duduk di jembatan sambil mengobrol dan becanda. Saat itu aku begitu haus, dan aku beranjak bangun. “ Kamu mau kemana....???” tanyanya. “ Aku mau beli air dulu...” jawabku sambil memandangi wajahnya. “ Biar aku temani..” tegasnya. Aku tidak bisa membantah karena dia udah bangun dari tempat duduknya dan memegang tangan ku sambil berjalan menuju warung kecil. Aku sangat binggung, timbul rasa tanya dalam benakku, kenapa dia bersikap begitu hangat kepadaku. Setelah dia membelikan ku air, kami pun kembali ketempat dimana kami duduk tadi. Di bukakannya air minumku, begitu anehnya. “ Terima kasih..” kataku. “Sama-sama”katanya dengan lembut.

Kami mengobrol dan sambil bercanda, terlihat dari sikapnya yang begitu manis di hadapan ku. Banyak sekali timbul pertanyaan dalam benakku. Kenapa dia bersikap seperti itu. Tak terasa hari semakin larut, kami pun beranjak pulang. Dia mengantar ku tepat jam 11 malam. Setelah sampai dikosan, aku turun dari motornya dan dia mematikan motornya dan ikut turun memakirkan motornya di depan kos ku. “ terima kasih ya udah mau ngajak makan dan jalan-jalan tadi....” kataku, “sama-sama...,kamu senang kan..?” tanyanya kepadaku. “Iya...aku senang banget...makasih ya...sekali lagi..” kataku. “syukurlah...kalo gitu..” katanya. “ya..udah kalo gitu aku masuk dulu ya...kamu hati-hati pulangnya..” kataku dengan hati-hati. Sewaktu aku membalikkan badan menuju kos ku dengan secepat kilat dia menarik tangan ku dan aku terpelanting terdekap dalam pelukannya yang hangat. Aku terdiam dan tak bisa mengeluarkan kata-kata. Dipegangnya wajah ku dengan kedua tangannya. Tatapannya yang begitu sendu membuat hatiku bergetar tak karuan, entah apa yang terjadi malam itu. Diciumnya keningku dengan lembutnya, sejenak mataku terpejam mencoba menghelakan nafasku yang mulai tidak terkontrol. Aku pelan-pelan mencoba melepaskan dekapan dari diriya. Dia pun memahami apa yang aku lakukan.” Aku pulang dulu ya...” katanya dengan lembut. Aku hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. Sambil menghidupkan motornya dia tersenyum manis dengan ku, dan aku pun membalasnya dengan ramah. Dia pulang.

Setelah aku mengganti pakaian ku, aku masih kepikiran apa yang terjadi hari ini, sungguh aku tidak menyangka, apa yang terjadi aku dengan dirinya. Waktu menunjukan pukul 1 malam, aku belum juga bisa tidur, entah kenapa tidak seperti biasanya, apa karena aku memikirkan kejadian itu.
Aku mencoba ke dapur mencari sesuatu yang bisa aku makan, tiba-tiba handphone ku bergetar dalam genggamanku. Terlihat jelas terlihat nomor asing yang meneleponku dan aku menganggkatnya. “ Hallo....” kataku. “Hallo...” jawabnya. Terdengar suara laki-laki yang agak serak. “ Ini siapa...?” tanyaku. “Ini Indra....cha....” jawabnya lembut. Aku kaget dan jantungku mulai berdetak cepat. “Kok blom tidur Ndra..?” kataku. “Kamu sendiri belum tidur kenapa..?”tanyanya. “ Aku ga bisa tidur “ kataku sambil membuat susu coklat kesukaanku. “Sama..aku juga ga bisa tidur Cha..!!” katanya. “ Kenapa..?”tanya ku singkat. “ Aku mikirin kamu terus..” katanya dengan tanpa basa-basi. Mendengar itu semua jantung ku serasa ingin copot. “ Maafin aku Cha...atas tindakan aku tadi...” katanya memohon. “iya,,,ga pa-pa...!!!” jawabku. “ya udah...kamu tidur sana, kan udah malam ni..!!” katanya. “iya...tapi aku susah tidur ni...”kataku singkat. “karena mikirin aku ya...? heheheheh...!!”. “ yee....keGRan kamu..hehheheh...” jawab ku sambil tertawa dengannya. Kami ngobrol hingga larut. Aku terbangun pukul 10.15 pagi dan aku tak menyadari aku telah tertidur di kasurku dengan handphone masih berada telinga ku. Entah jam berapa aku tidur, dan bagaimana dengan telponan kami tadi malam. Aku merebahkan tubuhku sejenak di kasur ku, aku lihat kembali handphone ku, dan ternyata ibuku udah menelepon ku berulang kembali dan terlihat ada 8 SMS dari Indra. Aku membuka SMS dari dia dan isinya berupa kata sapaan “ Selamat pagi cantik”, “bangun...udah siank”,”pergi mandi sekarang...”, dan masih banyak lagi. Akan tetapi SMS terakhir yang masuk adalah “ Ntar sore kamu jangan bawa motor, biar aku yang jemput mulai sekarang, kamu jangan naik motor sendiri lagi...OK “ Begitulah SMS yang terakhir yang aku dapat. Aku sungguh binggung dengan sikapnya. “ Baiklah..” begitu lah aku membalas SMS darinya.

Hari pun sore dan jam pun menunjukkan pukul 16.28 dan aku bergegas untuk mandi, setelah itu mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Jam menunjukkan pukul 16 50, saatnya aku harus pergi kekampus. Ketika keluar pintu sontak aku kanget melihat Indra sudah menunggu ku terlihat wajahnya yang begitu senang. “ kamu udah siap ? ‘tanyanya kepadaku. “ Sudah..” jawabku singkat. Aku sunggguh gugup melihat pandangan tajamnya kepada ku yang begitu penuh dengan seribu tanya. Sebenarnya aku lupa kalau aku bakal di jemput oleh Indra. Dia menghidupkan motornya dan aku pun beranjak menaiki motornya itu. Jantungku berdetak begitu kencang, benar-benar tidak terkontrol. Setelah sampai di parkiran kampus aku pun turun. “ Aku duluan masuk kelas ya...udah telat ni...” kataku. “ iya...pergilah..” katanya sambil mengelus pipiku dengan tangannya itu. Jantung makin tak terkendali, kenapa dia bersikap seperti seorang pacar saja. Aku pun langsung masuk ke kelas dan untung saja dosen belum datang, teman-teman ku pada asyik ngbrol. “Cha...!!” teriak yeni dari ujung kelas. “ hai...yeni..” kataku sambil mendekatinya. “ Baru datang ya..???” kata Yeni kepadaku. “ Iya...ni..untung ja dosen belum datang “kataku. “duh..kamu kemana aja sih...dosen ga datang tau..katanya ada urusan..” kata Yeni mengejekku. “Oh...ya...bagus donk ....hehehe” kataku. “yee...kalau dosen datang ja senang ya kamu Cha..hehehe” kata Yeni sambil tertawa kecil. “Abis ni kamu mau kemana..??” tanya ku kepada Yeni. “ kayaknya aku pulang deh...ada kerjaan dikit dirumah..” Jawabnya. “ Oh..gitu..ya dah..aku juga pulang..” jawabku.

Kami keluar kelas sama-sama dan kami berpisah di pintu pagar kampus. “ Aku duluan ya Cha..”kata Yeni. “Iya..deh...Da..”kataku. Yeni pun pergi dengan cepatnya menghilang dari pandangan ku. Dan aku pun berjalan untuk pulang. Baru saja emapt langkah aku berjalan tiba-tiba Indra muncul dihadapanku dengan motor Visionnya itu. “ kamu kenapa ga kasi tau aku kalau kamu udah pulang..” katanya dengan lembut. “ maaf Ndra..aku ga mau bikin kamu repot aja..” jawabku. “kamu ga bikin aku repot kok, malah kalau kamu pulang sendiri yang bikin aku cemas tau...” katanya dengan tegas. “ Ayo..aku antar pulang..” kata Indra sambil menarikku agar aku menaiki motornya itu. Setelah aku naik dia pun segera menghidupkan motor dan kamu pun pergi dari pagar kampus. Sewaktu dijalan dia memandangi ku lewat kaca spionnya. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. “kita pergi makan dulu ya...??” tanyanya kepadaku. “ iya deh..aku juga lagi lapar, lagian di kos lagi ga masak..” kataku. “Ok..” katanya. Kami pun pergi ke sebuah tempat makan yang sangat sederhana. Setelah makan Indra mengajakku kesuatu tempat yang belum pernah aku pergi kesana.Aku tidak tau dimana kami berada. Tempatnya penuh dengan ilalang, dan terlihat dari atas keramaian kota. “ tempat apa ini..?” tanyaku. “kamu nikmatin aja suasannya...” jawabnya sambil tersenyum dan membuat aku penasaran. Setengah jam kami duduk disitu dan tanpa berbicara. Tiba-tiba seekor kunang-kunang muncul dihadapanku.” Indra...ada kunang-kunang..” kataku sambil memperhatikan kunang-kunang yang berterbangan di hadapanku. Tak lama kemudian kunang-kunang itu semakin banyak seakan menghiasi tempat yang penuh dengan ilalang itu. “ inilah yang ku maksud...Cha...” katanya.sambil memegang tanganku. Aku tersenyum memandang nya. Tanpa aku sadari dia telah memelukku dan aku tidak bisa apa-apa selain diam. “Cha...Sebenarnya aku suka dengan kamu, itu pun udah lama. Semenjak kita pertama kali menjadi mahasiswa, hanya saja aku tau kamu udah punya pacar dan aku tau semua kejadian yang menimpa pacarmu dulu. Maaf...Cha.." katanya perlahan sambil melepaskan pelukkan yang diberikannya untukku. Terlihat wajahnya yang sedikit agak murung. Aku merasa begitu tersanjung waktu ia mengatakan seperti itu. Seakan aku teringat kembali dengan Ikhsan yang telah lama pergi dan sekarang telah berada di sisi-Nya. Aku memegang pundaknya. Kembali dia menatap ku. “ Kenapa kamu mengatakanya sekarang..” tanya ku sambil memandangi wajahnya. “ Aku menghargai mu karena kamu telah ada yang punya waktu itu “ katanya dengan perlahan. “ Sungguh aku tidak tau dengan semua ini “ kataku. “ Tidak apa-apa, lagian ini semua salahku. Aku tidak berani mengatakannya.” Katanya. Aku hanya tersenyum dan mengelus pundaknya. Terlihat tatapan matanya yang bening membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Terlihat pada waktu itu kunang-kunang semakin banyak menghiasi malam itu, Dan dia tiba-tiba juga memeluk ku dengan erat, terasa begitu hangat pelukanya. Sungguh aku merasa nyaman. Tetapi terlintas di pikiranku kenapa aku menerima pelukanya begitu saja, dan kenapa juga aku seakan tidak mau melepaskan pelukan itu.Sungguh aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri. “Kamu mau ga jadi pacar aku..?”tanyanya dengan lembut yang masih memelukku. “Jika kamu ikhlas, aku akan menerimanya” kataku. “ terima kasih Cha...”katanya sambil mempererat pelukannya. Semenjak malam itu lah kami telah menjalin hubungan. Kami menghabiskan waktu di tempat itu hingga pukul 11 malam dan akhirnya dia mengantar ku pulang sampai ke kosan. Dia mengelus wajaku dengan lembut membuat ku seakan ingin tertidur saja, tapi aku menyadari kalau kami sedang berada di depan kosan ku. Ia pun berlalu pulang.

Hari-hari kami lewati bersama, terasa indah semua itu. Dan tak aku sadari aku telah menjalani hubungan bersamanya sudah 1 tahun 5 bulan. Hingga teman-taman ku pada iri melihat kami selalu bersama dan tak pernah punya masalah. “ pagi sayang” begitu lah sapaan pagi yang terdengar oleh ku lewat Hp pagi itu.

Bersambung . . .
read more “Kisah Sha”

Senin, 16 Agustus 2010

Pemuja Rahasia Yang Tak Disangka

Hari ini adalah hari pertamaku memasuki dunia perkuliahan. Aku merasa senang, tapi juga merasa deg-degan tuk mulai menapakkan kakiku di kampus yang selama ini aku impikan. Tapi sialnya, aku bangun kesiangan, sehingga aku terburu-buru dan bisa dikatakan AKU TERLAMBAT!
Sesampainya di kampus baruku, aku pun tergesa-gesa masuk. Payah! Semua ini gara-gara tadi malam aku nonton DVD sampai larut malam. Coba aku dengerin omongan ibuku untuk segera beristirahat agar esok hari aku bisa ceria dan bersemangat untuk bertemu dengan teman-teman baru di kampus baruku itu. Percuma aja aku nyesel…. Huuh…. Aku harus lari lebih kencang lagi ne…
BbRrruuuaaaaKkkk………………!!!!!
Tak sengaja aku menabrak seorang cowok, dan ternyata dia sama-sama mahasiswa baru seperti aku, dan kesamaannya lagi, ternyata dia juga datang terlambat. Akhirnya, kamipun segera berlari mencari kelas kuliah pertama kami. Memang sih, kami sempat kena semprot dosen saat ijin masuk karena terlambat. Tapi akhirnya, kamipun diperbolehkan juga mengikuti kuliah pertama kami ini. Huuuh… lega de rasanya. Tapi tetep aja capek karena lari-lari tadi.
* * *
Sejak tabrakan kami di hari pertama kuliah, akhirnya aku dan cowok itu menjadi teman akrab. Oh ya aku lupa belum mengenalkan nama cowok itu. Namanya Adit. Dia anaknya humoris abis. Jadi dia selalu berhasil membuatku tertawa disaat aku sedang mengalami masalah berat sekalipun.
Tak terasa, aku sudah melewati satu semester masa perkuliahan. Meskipun awalnya aku merasakkan pahitnya hari pertama perkuliahan, tapi aku sangat bahagia pada akhirnya.
“Woii..!! Nglamun aja kamu. Nglamunin apa sih Cha, siang-siang gini juga? Eh, aku pingin kasih tau kamu sesuatu nie. Mau denger ga Cha?” suara Adit yang sempet bikin aku kaget hingga membuyarkan lamunan panjangku tadi.
Setelah mendengar cerita Adit, aku bisa menangkap maksud dari apa yang dia ceritakan. Ternyata Adit sedang mengincar salah seorang cewek di kampus ini. Lalu dia pun meminta saran dari ku bagaimana Adit bisa mengambil hati gadis pujaannya itu. Dan akupun menjawab, “ Kalo kamu pingin menarik perhatian seorang cewek tu, kamu kudu jadi orang yang romantis. Misalnya aja kamu kasih dia bunga mawar, trus kamu kasih puisi-puisi romantis, trus… ya udah kamu ngomong ke cewek itu kalo kamu suka ama dia. Yaa… itu sih cuma usulan dari aku aja. Diterima syukur, ga terima ya aku juga ga rugi kok. Hehe….”. Dan ternyata Adit menerima dengan baik usulan dariku itu.
* * *
“Dit, aku pingin cerita neh. Tau ga, tadi pagi waktu aku mau berangkat ke kampus, aku tu nemuin bunga mawar di depan pintu rumahku. Gimana aku ga kaget? baru pertama kali ini aku nemuin mawar di depan pintu kayak gini.” Ujarku bersemangat sambil terengah-engah kerana abis nyari Adit kemana-mana buat cerita ini.
“Masa sih? Jangan bilang kamu punya pemuja rahasia? Cowok bego mana sih yang rela kasih bunga mawar ke cewek kayak kamu? Kasian banget aku ma tuh cowok.”
“ Maksud kamu apa dit? Kamu ngatain aku ya? Awas kamu dit! Emang nasib kamu ma cewek yang kamu kejar-kejar tuh gimana? Udah sejauh mana usaha kamu seminggu ini?”
“ Oh iya, untung kamu ingetin aku. Ini, aku kan tadi malem abis bikin puisi gitu buat tuh cewek, nah coba deh kamu baca dulu, trus kasih komentar ya?” kata Adit, sambil menyodorkan selembar kertas yang bertuliskan puisi ciptaannya itu.
“ Eemmm…bagus. Bagus banget kok dit. Ternyata kamu bakat juga ya jadi pujangga cinta. Ceileee…!” komentarku setelah membaca puisi Adit buat cewek incarannya itu.
“Serius kamu cha? Ya udah, thanks banget ya cha!” kata Adit sambil tiba-tiba ngeloyor pergi ninggalin aku.
“Eh puisi kamu ketinggalan nih!” teriak aku buat manggil Adit lagi buat ingetin dia kalo puisi dia masih ada di aku. Tapi kayaknya Adit udah ga denger lagi. Buktinya dia masih aja tetap ngeloyor keluar kampus.
* * *
Dan di hari setelah itu, aku juga mengalami kejadian yang sama, dan akupun bercerita kembali pada Adit, “ Dit, aku pingin cerita lagi nie. Tau ga, hari ini aku dapet bunga yang sama kayak kemaren. Kok aku jadi takut ya. Jangan-jangan ada orang yang mau teror aku lagi. Hiii…” Jelasku dengan gaya kayak orang ketakutan.
“Iya, orang itu mau terror cinta kamu. Ciee…!” ledek Adit.
“Apaan sih kamu dit? Ga lucu tau!” kataku kesal.” Eh, gimana perkembangan hubungan kamu ma cewek gebetanmu itu?”
“Ga tau juga, aku bingung. Kadang dia keliatan seneng, tapi kadang juga keliatan sebel gitu.” Jelas Adit sambil memasang muka bingung. “ Oh iya, aku minta saran lagi nih.” Katanya sambil mengeluarkan selembar kertas berwarna pink.
“Apaan? Puisi lagi?” tanyaku sambil menerima kertas dari Adit. Aditpun menganggukkan kepalanya, meng-iya-kan. Akupun segera membacanya.
“ Eemmm…Puisi kamu hari ini ada peningkatan kok dari hari kemarin. Lebih dalem aja kata-katanya. Yah, tingkatin terus deh buat selanjutnya. Btw, kamu tuh kayaknya salah jurusan deh. Harusnya kamu tuh masuk jurusan Sastra Indonesia, bukan jurusan sini.” Komentarku terlalu panjang.
“ Oke deh… Thanks ya cha!” kata Adit sambil berlari meninggalkan aku dan kertas puisinya. Yah, walaupun aku panggil namanya sekuat tenaga, dia pasti tidak mendengarku.
* * *
Sudah hampir seminggu aku tak pernah bertemu dengan Adit di kampus. Aku smspun, dia tak pernah membalasnya. Aku coba menelpon ponselnyapun selalu tak di jawabnya. Entah dia menghilang kemana, ato dia hilang ditelan bumi. Duh, aku pusing cariin dia. Padahal kan aku butuh dia. Aku pingin cerita banyak tentang si pengirim bunga mawar itu. Tapi, kayaknya kali ini aku hanya bisa memendam dalam hati yang terdalam.
“Duh dit, kamu tuh kemana aja sie. Kok ga jelas gitu sih kabar kamu?” pikirku dalam hati. “Kok aku jadi khawatirin kamu berlebihan gini sih Dit? Kamu tuh dimana? Aku kan pingin ketemu kamu, aku pingin becanda-becanda sama kamu. Dit, kenapa aku jadi kengen sama kamu sih?”. Pikiran aneh tiba-tiba muncul dalam benakku.
Memang sudah hampir satu minggu aku tak menemui Adit. Aku sudah menanyakan ke beberapa teman dekatnya, tapi merekapun tak mengetahui keberadaan Adit. Aku juga sempat mendatangi rumah Adit, tapi jawaban yang sama juga aku temui. Keluargnya tak mengetahui secara pasti kabar putra pertamanya itu. Mereka hanya mengetahui bahwa Adit sebelumnya pamit akan sibuk mengurusi tugas kerja Praktek dari kampusnya. Entah, sepertinya aku hanya bisa menunggu waktu saja. Aku hanya berharap, dia selalu baik-baik saja.
Sepulang dari rumah Adit, aku menelusuri jalan menuju rumahku dengan kaki lemas dan harapan yang tak pasti. Pikiranku tak karuan memikirkan kabar Adit.
Tiit…tit…tiiit…tit…, Nada sms ponselkupun berbunyi tiba-tiba hingga sempat mengagetkan dan membuyarkan pikiran yang tak pasti ini. Ku coba meraih ponsel yang ada dalam tasku. Aku pun segera membacanya…
‘Cha,bsk mlm km ad wkt g?q pgn crta ssuatu ni ma km.q pgn nyatain prasaanq ke cew yg q incar itu. Jd q butuh km bwt ksh smngat ke q. Qt ktmu di taman jm 7 mlm. Ok!’
Saat aku selesai membaca sms dari Adit itu, bukan perasaan senang yang aku rasakan karena aku sudah mengetahui kabar Adit, tapi malah airmataku mengalir dengan tak sadar. Perasaan sedih menyelimuti batinku, atau… jangan-jangan aku merasa cemburu dengan keputusan Adit untuk menyatakan perasaannya itu pada wanita pujaannya. Ga mungkin ah kalau aku mulai jatuh cinta pada Adit! Tidaaaaaakkk…….
* * *
Malam yang dijanjikan Aditpun kini sudah tiba. Perasaan yang tak seharusnya aku rasakan ini masih saja singgah dalam benakku. Aku merasa takut untuk kehilangan Adit. Aku merasa nyaman bila berada di dekatnya. Aku tak rela jika gadis lain merebut hatinya. Jahat sekali pikiranku ini. Aduuh… Kenapa perasaan ini tak bisa aku singkirkan?
Aku segera berjalan menuju tempat yang diminta oleh Adit untuk menemaninya menyatakan perasaan pada gadis pujaannya itu. Aku harap, sesampainya disana perasaan yang tak pantas hadir ini akan segera hilang, sehingga aku bisa memberi semangat pada Adit seperti yang ia inginkan.
“ Cha! Aku disini.” Suara Adit tiba-tiba memanggilku, dan akupun segera berjalan menuju asal mula suara itu. “ Thanks ya cha, kamu dah mau dateng ke sini. Aku bener-bener butuh semnagat dari kamu nih. Aku deg-degan banget Cha. Grogi banget.”
“Emang cewek kamu itu udah dateng? Mana?” tanyaku sambil celingukan mencari sosok gadis pujaan Adit itu di tengah keramaian taman kota. Tapi sepertinya, aku tak berhasil menemukannya.
“ Dia udah dateng kok cha. Tapi aku grogi menyiapkan kata-kata untuk membeli cinta di hatinya.” Kata Adit sok romantis.
“ Apa? Udah dateng!” kataku kaget. “ Trus kamu nunggu apa lagi? Kamu ga pingin tuh cewek disamber orang kan? Udah gih, cepetan sana!”
“ Iya..iya… Ya udah deh, aku temuin dia sekarang ya? Ya ampun, liat nih, keringatku segede jagung kayak gini. Pokonya kamu doain aku dari sini ya!”, jawab Adit dengan tingkah yang agak gugup.
Akhirnya, Aditpun meninggalkan aku, dan segera menuju ke tempat gadis pujaannya itu berada. Sebenernya, aku ingin sekali melihat peristiwa yang paling penting dalam kehidupan Adit ini. Tapi rasanya, aku tak sanggup. Dan akupun memutuskan untuk tetap berada di sini dan tetap mendoakan agar Adit mendapatkan apa yang terbaik bagi dirinya.
Detik demi detik, menit demi menit aku lalui dengan menunggu kabar dari Adit, dan dalam hatiku berharap agar Adit memutuskan untuk berubah pikiran. Memang pikiranku itu salah dan terlalu kejam, tapi itulah yang sedang aku rasakan sekarang. Aku mulai membayangkan, jika saja keinginan Adit itu benar-benar menjadi kenyataan, entah apa aku sanggup untuk menyaksikan mereka berdua setiap saat. Pasti perasaanku tercabik-cabik rasanya. Tapi aku harus melawan rasa sakit hati itu, dan aku harus bisa menerima kenyataan. Dan tak terasa airmataku sudah mengalir di pipiku. Membayangkan saja aku sudah tak kuat, apalagi nanti jika memang sudah terjadi di depan mataku. “Icha, kamu harus tegar menghadapi semua ini!” pikirku berusaha memberi semangat pada diriku sendiri.
“Icha!” panggil seorang cowok yang membuatku secara reflex menoleh pada sesosok lelaki itu. Ternyata lelaki itu adalah Adit. “ Icha, kamu kenapa? Kamu nangis ya?” lanjutnya. Ya ampun, ternyata karena reflexnya, aku lupa tidak mengusap aliran airmata di pipiku.
“Oooh, aku ga papa kok.” Kataku sambil mengusap airmataku. “ Adit, udah selesai misi kamu? Kok cepet banget. Trus gimana hasilnya? Sukses kan?” lanjutku dengan memasang mimik wajah yang semangat dan ceria.
“ Belum cha. “ jawab Adit datar. “ Nih aku sekarang mau menjalankan misiku itu.”
“ Trus, kenapa kamu kesini lagi kalo lum selesai?” kataku sambil mendorong tubuhnya. Tapi aku hanya berhasil menggeser tubuhnya tak lebih dari satu meter.
“ Karena gadis pujaanku itu sudah ada di dekatku.” Jelas Adit agak pelan.
Mendengar jawabannya itu, aku jadi bingung. Pandanganku langsung melihat ke arah sekitar Adit, dan mencoba mencari-cari dimana gadis itu berada.
“ Mana dit? Kok aku ga liat sih.”
“ Gadis itu udah ada di depan mataku.” Aditpun berhenti sejenak. “ Gadis itu adalah kamu cha.!”
Darahku tiba-tiba terasa mengalir sangat cepat ke ujung kepala. Aku merasa kaget mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Adit. Aku mencoba untuk menenangkan diri.
“ Maksud kamu apa dit?” tanyaku menanggapi pernyataannya itu.
“ Yaa… Maksud akuu… Gadis pujaan yang selama ini aku ceritakan ke kamu itu… Dia adalah kamu cha.” Jawab Adit agak gugup. Jawabannya itu benar-benar membuatku teramat kaget dan agak tidak percaya. Dan akupun hanya sanggup terdiam tak berkata-kata. “ Kamu masih inget kan cha, waktu kamu kasih aku saran buat bisa mendekati gadis pujaanku itu? Kamu kan menyarankan aku untuk memberi bunga mawar dan puisi romantis. Setiap pagi, kamu sudah mendapatkan mawar itu kan? Dan aku juga udah kasih kamu puisi kan tiap kali aku minta saran tentang puisi itu?”
Aku benar-benar terkejut mendengar penjelasan Adit, “ Jadi, pengirim bunga mawar itu adalah kamu? Dan ternyata kamu emang sengaja ninggalin kertas puisi itu ke aku?” tanyaku meyakinkan keraguan atas penjelasan Adit. Mendengar pertanyaanku itu, Aditpun menganggukkan kepalanya, dan ia membenarkan segala ucapanku. “ Kamu jahat banget sih Dit, ngerjain aku kayak gini.” kataku agak kesal. Tapi tentunya, aku tak sanggup untuk marah ke Adit. Jujur, aku juga senang mendengar kata-kata Adit itu.
“ Gimana Cha? Apa kamu terima aku jadi cowok kamu?” katanya serius.
Dan aku tak percaya, kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Adit. Dan yang paling tak ku sangka, kata-kata itu di berikan ke aku. Hatiku mulai tersenyum, dan akupun tak bisa menutupi rasa bahagiaku kali ini. Dan akupun memberi jawaban kepada Adit, “ Aku persembahkan lagunya Nina Tamam buat kamu Dit.”
Ya…ya…ya… Aku terima. Dirimu jadi. Teman hidupku… .
read more “Pemuja Rahasia Yang Tak Disangka”

Kamis, 10 Juni 2010

Cerita Lucu - Orang Batak Menyetop Taksi

Suatu hari, ada orang Batak yang sedang berwisata di kota Jakarta dan ia bermarga Manalu, saat menunggu taksi yang lewat iapun duduk untuk beristirahat.

Saat itu ia melihat ada taksi tak berpenumpang yang kebetulan lewat maka segera iapun menyetop taksi itu, dan saat diberhentikan sang supir taksi bertanya kepada si Batak ini. "Mana lu?" tanyanya sambil mengintip dari jendela (maksudnya kamu mau ke mana?), si Batak ini kaget dan bergumam "Bah, hebat kali supir taksi di Jakarta ini? Belum apa-apa sudah tahu namaku."

Lalu ia bertanya lagi pada si supir taksi ini "Hei kau, kau paranormal ya?" Lalu supir taksi ini menjawab sambil nyeleneh dan pergi "Sinting." Si Batak ini bergumam lagi "Bah, lebih hebat lagi supir taksi ini, dia tahu kemana tujuanku.

Aku kan mau pergi ke rumah temanku si Ginting." Karena dari 5 taksi yang ia berhentikan mengatakan hal yang sama saja, si Batak ini frustasi dan akhirnya memutuskan untuk naik metro mini saja daripada repot-repot cari taksi.

Di dalam metro mini ia berkata dalam hati "Supir-supir taksi di Jakarta ini paranormal semua kelihatannya tetapi aneh, kok mereka tak mau kutumpangi ya? Padahal uangku cukup."
read more “Cerita Lucu - Orang Batak Menyetop Taksi”

Rabu, 09 Juni 2010

Cerita Lucu - Rahasia Lengket dengan Istri Muda

Nyonya Heni setahun belakangan ini uring-uringan. Ini lantaran suaminya beristri lagi dan hari-hari sang suami senantiasa dihabiskan di rumah istri mudanya. Sengaja Nyonya Heni tidak minta cerai karena dia optimis bahwa suaminya bakal bisa dia rebut kembali dari cengkeraman istri muda. Berbagai upaya pun dilakukan Nyonya Heni untuk mendapatkan kembali mutiaranya yang hilang. Usahanya antara lain dengan menyewa mata-mata untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang kehidupan suaminya dengan sang istri muda, termasuk informasi rahasia ranjang mereka: kenapa sang suami sampai lengket betul dengan istri muda.

Selidik punya selidik, si mata-mata berhasil mendapatkan informasi yang sangat akurat tentang mengapa suami Nonya Heni begitu betah di kamar tidur istri muda. Rupanya, dalam setiap kali ritual hubungan biologis, si istri muda selalu mengawalinya dengan permainan yang mereka biasa sebut American Breakfast. Konkretnya, si istri muda menyediakan tubuh polosnya seperti sepotong roti dan di meja samping tempat tidur selalu tersedia berbagai jenis selai (ada selai nanas, selai srikaya, selai strawberi) dan juga messes coklat. Selanjutnya, sang suami tinggal menikmati "rotinya" dengan pilihan rasa sesuai selera pada hari itu.

"Silakan hero-ku kau mau sarapan roti dengan rasa apa, tinggal pilih saja," begitu rayu si istri muda. Jika pas sedang pingin rasa nanas, sang suami akan mengoleskan selai nanas di atas "roti" dan melahapnya habis-habisan. Di hari lain, sang suami pingin "roti" dengan selai srikaya bertabur messes, dan seterusnya.

Mendengar laporan mata-mata tadi, Nyonya Heni pun tidak mau kalah set. Dia sadar usianya sudah tidak muda lagi, namun rasa optimisnya mengalahkan kesadaran akan usia dan bentuk tubuhnya. Dibelinya berbagai macam selai dan messes di supermarket dan ditatanya dengan rapi di kamar tidur. Pas jadwal suaminya pulang ke sarang lama, Nyonya Heni pun segera mempersiapkan dirinya. Dilucutinya segala jenis pakaiannya dan jadilah dia sepotong "roti" di tempat tidur.

Begitu suaminya masuk kamar, Nyonya Henipun membuka acara "sarapan" dengan berkata:
"Silakan sayangku, kau mau sarapan roti dengan model dan rasa apa, tinggal pilih saja."

"Well" jawab suami, "hari ini kayaknya aku ingin roti itu dipanggang saja!"
read more “Cerita Lucu - Rahasia Lengket dengan Istri Muda”